http://melina's diary
Halloo nama saya Melina Jokita, umur 15 tahun dari Etepiti, Lautem
Timor Leste
Sebelum saya memulakan cerita saya, saya mau ucapkan TERIMA KASIH banyak ke Aunty Marina Mahathir atas semua bantuan dan kasih sayangnya untuk saya dan juga karena sudah sudah mengajar saya untuk buat blog ini. Aunty mengajar saya di IJN setelah saya dioperasi jantung. Untuk saya blog ini sangatlah penting dan berarti
karena melalui blog ini saya boleh mengeluarkan pendapat saya.
Jika saya masih di Timor Leste tak mungkin saya dapat membuat ini semua. Saya sangat seronok di Malaysia karena saya belajar banyak sekali. Hingga saat ini saya sangat di perhatikan dan mendapatkan banyak kasih sayang dari masyarakat Malaysia. Mereka semua dari berlainan kultur dan budaya ada Melayu seperti Askar, Polisi Malaysia dan keluarganya, ada masyarakat Cina, India dan Portugis semua baik hati dan selalu memperhatikan saya dan keluarga besar di Melaka
Juga melalui blog RANTINGBYMM banyak orang yang saya tidak pernah jumpa namun begitu besar hati membantu saya hingga saya dapat di operasi Jantung dengan sukses. Tak ada kata yang boleh saya hantarkan hanya doa
“ SEMOGA TUHAN MEMBALAS BUDI BAIK SEMUA ORANG YANG TELAH MEMBANTU SAYA, MENHANTARKAN REZEKI UNTUK ANDA DAN KELUARGA. ANDA SEMUA AKAN SELALU ADA DALAM DOA SAYA SETIAP HARI”
OBRIGADO/ TERIMA KASIH MALAYSIA
Dalam blog ini, anda dapat bertanya megenai saya (pengalaman saya) dan Negara saya Timor Leste. Juga anda dapat bertanya mengenai pendapat saya, khususnya mengenai anak anak yang pernah hidup dalam suasana perang dan miskin.
This is my diary of 14 years
Saya lahir di satu kampong namanya ETEPITI, daerah Com di Lospalos. Penduduk Timor Leste ada satu juta orang sahaja.
Negara Timor Leste adalah Negara terbaru di dunia.
Saya lahir tahun 1993. Saya tidak ingat apa yang terjadi, tapi saya hanya ingat waktu saya berumur 6 tahun.
Ibu dan ayah saya meninggal di tahun 1999. Pada saat itu Timor Leste ingin merdeka, dari itu 1999 terjadi perang antara rakyat Timor dengan tentara Indonesia.
Setelah itu juga kami, kakak dan adik berempat dibawa oleh kakak ke Yayasan Cinta Anak Timor ( Fundasaun Hadomi Timor Oan) hidup dengan Ibu Lala Noronha sampai sekarang.
Saya masih ingat sekali peperangan yang selalu terjadi di Timor Leste, saya sangat takut dan saya sering kali pingsan/ tak sadarkan diri.
Tak akan pernah terlupakan! Saat perang saudara terahir di bulan April tahun 2006. Saat itu saya dan kakak adik saya semua ada di dalam Yayasan Cinta Anak Timor. Kami semua ada 30 orang dan kakak Mada yang selalu masak dan perhatikan kami. Kakak Mada tidak lari, tapi dia sendiri tidak dapat buat banyak. Ia hanya tunggu nasib sama dengan kami. Nasib kami sudah tak tahu lagi.
Saya sangat heran dan terkejut, pada hari itu tengok Abang Mariano dari biliknya bawa keluar barang barang dan staff lain pergi semua meningalkan kami sendirian di dalam yayasan itu. Mereka semua lari selamatkan diri dan keluarganya
Abang Ensio datang hanya untuk ambil kareta untuk selamatkan keluarganya. Hari hari kami di ancam orang, saya tidak tahu orang itu, tapi hampir tiap hari orang bagi tau kami, bahwa rumah kami mau di bakar. Rumah yayasan kami di beri tanda cat warna merah. Saya takut sekali. Tidak ada orang besar yang jaga kami. Kami terpaksa telepon ke ibu (Lala Noronha), kami ceritakan apa yang terjadi. Kami minta ibu kembali. Pada saat itu ibu ada di Australia. Ibu pun terpaksa datang hanya untuk jaga kami.
Ibu datang dari Australia ke Timor, tapi sampai di rumah yayasan, Embassy Australia memaklumatkan orang Australia harus meninggalkan Timor Leste. Karena situasi yang sangat teruk. Tapi ibu tidak mau pergi, saya ingat, ibu cakap: ”saya datang jauh-jauh ke sini untuk anak anak ini jadi saya tidak mau pergi”. Setiap kali orang datang cari ibu, agar ibu kembali ke Australia tapi ibu suruh kami untuk bagi tau orang itu, bahwa “ibu tidak ada, ibu sudah pergi”
Saya dan kakak adik berada 30 orang, kami takut jika malam tiba, karena malam selalu tembak tembak, kami selalu dengar suara tembakan yang sangat dekat sekali. Ibu dan kakak laki laki besar, mereka tidak tidur tiap malam hanya jaga diluar.
Saya tak boleh tidur, karena kami tidur dan sambil siap untuk lari jika terjadi sesuatu.
jadi suatu hari orang sudah tembak dekat rumah kami, jadi kami takut kami terpaksa mengusi karena di situlah tempat yang aman, walaupun di sana kami tidur di lantai dan ada orang hampir 1000 tapi pake satu toilet saja, untung perdana Menteri Ramos Horta yang sekarang sudah jadi President Timor yang ke sana dan dia jumpa ibu Lala, dan dia Tanya kenapa kamu ada di sini? Trus ibu jawab saya ke sini karna saya mau selamatkan anak-anak ini, trus dia bilang sekarang kalian tidak usah tinggal, sekarang boleh pulang karena saya akan kasih Army untuk jaga kalian 24 jam, pada saat itu kami langsun pulang.
Sampai di rumah tentara datang periksa kesehatan kami semua, di situ mereka tahu bahwa ada beberapa anak yang sakit, termasuk saya, karena saya sering pingsan jika terkejut, jadi pada saat itu saya di bawah ke sini(Malaysia) untuk berobat. Saya sangat terkejut karena ternyata saya punya sakit jantung yang separah ini.
Saya sangat senang karena bisah dapat orang yang seperti ibu Lala Noronha. Ibu Lala bukan hanya pendiri di FHTO tapi dia juga sudah kami angap seperti ibu kandung kami sendiri.
Tuesday, March 25, 2008
Subscribe to:
Comments (Atom)